Saturday, 5 September 2015

Artikel | Tugas Agama Islam

11:29 Posted by Ndaru Rifai 1 comment

MAKNA DAN HAKIKAT ISLAM

BAB I dan BAB II

BAB I
MAKNA DAN HAKIKAT ISLAM
A. Makna Islam (مَعْنَى الإِسْلاَمِ )
1. Islam berasal dari bahasa Arab yang memiliki banyak arti :
a)       Islam berasal dari kata "islaamul wajhi " (أَسْلَمَ وَجْهَهُ ) yang artinya menundukan wajahnya. Seorang muslim berarti menundukan wajahnya di hadapan Allah SWT,karena rasa hormatnya kepada Allah SWT.
b)       Islam berasal dari "istislaam" (الإِسْتِسْلاَمُ) yang berarti berserah diri. Seorang muslim berarti orang yang berserah diri kepada Allah SWT,apapun yang akan diperbuat oleh Allahkepada dirinya ia akan pasrah,menyerah,ridho.
c)        Islam juga berasal dari kata "as-salaamah" (اَلسَّلاَمَةُ) yang artinya suci dan bersih. Seorang muslim adalah orang yang besih badan ,pakaian,pikiran dan hatinya. Kebersihan ini merupakan keiklasan islam,sehingga Bab Thaharah (Bersuci) menjadi yang pertama dalam Fiqh.
d)        Islam berasal dari kata "as-salaam" (اَلسَّلاَمُ) yang artinya selamat sejahtera. Seorang muslim selalu memberikan keselamatan dan  kesejahteraan bagi orang lain. Ucapan salam adalah  khas bagi muslim. Rasulullah SAW mendorong umatnya agar menebarkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal.
e)       Islam juga berasal dari kata "as-silmu atau as-salmu" (اَلسِّلْمُ) yang artinya perdamaian. Islam adlah agama yang damai,bukan agama kekerasan. Orang muslim adalah orang yang menebarkan kedamaian di  muka bumi.
        Jadi Islam berarti :
1.  Menundukan wajah kehadirat Allah SWT
2.  Berserah diri kepada Allah SWT
3.  Kesucian dan kebersihan
4.  Keselamatan dan kesejahteraan
5.  Perdamaian
6.  Dan inilah yang  diridhoi oleh Allah SWT,siapa yang mencari agama lain akan ditolak diakhirat dan rugi.


B. Hakikat Islam
Sebagai agama. islam memiliki sebutan-sebutan yang menjelaskan hakikat dari islam, sebutan-sebutan itu sebagian terkait dengan maknanya secara bahasa dan ada juga yang terpisah.
a)       اَلْخُضُوْعُ
Islam adalah agama yang menekankan pada ketundukan manusia pada Sang Pencipta. Seorang Muslim adalah orang yang tunduk pada perintah dan larangan Allah agar menjadi orang yang bertakwa. Shalat merupakan contoh ketundukan seorang Muslim, terutama pada saat ruku’ dan sujud.
b)        وَحْيٌ إِلَهِيٌّ
Islam adalah satu-satunya agama yang berasal dari Wahyu Allah. Tak mungkin Allah menetapkan lebih dari satu agama yang perbedaannya jauh sekali dan bertentangan ajaran-ajarannya

c)       دِيْنُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
Islam adalah agama para nabi dan rasul. Semua nabi dan rasul membawa agama yang sama dan satu, yaitu Islam
d)        أَحْكَامُ اللهِ
Islam adalah minhajul hayah (pedoman hidup) yang berisi hukum-hukum Allah. Kehebatan hukum-hukum Allah salah satunyaberasal dari Pencipta alam semesta, berarti yang paling tahu seluk-beluk alam semesta. Karena itu, Allah menekankan sekali agar berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan
e)       اَلصِّرَاطُ اَلْمُسْتَقِيْمُ
Islam adalah jalan yang lurus (shiratul mustaqim) à jalan yang selamat sampai sorga. Rasulullah SAW pernah membuat sebuah garis lurus, kemudian di sisi-sisinya ada garis-garis lain yang menyimpang ,di setiap persimpangan ada para penyeru ke neraka Jahannam
f)         سَلاَمَةُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Islam adalah agama yang menjamin pemeluknya akan selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat. Orang yang beragama selain Islam akan tertolak amalnya (3:85), atau dijadikan debu (25:23), hidupnya sempit (20:124) meski bergelimang harta. Setiap Muslim yang mengucapkan syahadat dan tidak syirik pasti masuk sorga meskipun dia mencuri dan berzina, meskipun dosa-dosanya itu mesti dibersihkan dulu di neraka (na’udzu billah min dzalik). Abu Dzar saja heran terhadap sabda Nabi ini hingga menegaskannya 3x dan mendapat jawaban yang sama; pada jawaban terakhir Rasul bersabda, “Walaupun hidung Abu Dzar keropos.”


Kesimpulan
Berdasarkan materi diatas dapat disimpulkan bahwa :
Islam merupakan agama yang sangat ideal dan sempurna. Banyak faktor yang mencoba menutupi kesempurnaan Islam, namun kesempurnaan Islam tidak dapat tertutupi. Hal inilah yang menjadikan muslim di dunia selalu meningkat.



BAB II
UNIVERSITAS ISLAM
A.  Agama Universal
Islam adalah agama yang universal/integral/menyeluruh atau agama yang SYAMIL. Kemenyeluruhan atau universalitas Islam (syumuliyyatul Islam) meliputi segala aspek.
Paling tidak, ada 3 aspek syumuliyyatul Islam :
1. Universal dari segi MASA (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)
2. Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ)
3. Universal dari segi TEMPAT (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)

1. Dari Masa ke Masa (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)
Islam adalah agama manusia pertama (Nabi Adam AS) dan para nabi dan rasul setelahnya, sampai berakhir pada Nabi Muhammad SAW.
Jadi Islam adalah agama dari masa ke masa, tidak pernah terputus.
Islam Agama Satu-satunya.
Allah SWT menegaskan bahwa sebutan MUSLIMIN (orang-orang Islam) bukan sebutan baru bagi umat Nabi Muhammad SAW, tapi seluruh pengikut para Nabi dan Rasul disebut Muslimin.

Kesatuan Risalah وَحْدَةُ الرِّسَالَة)ِ)
1.  Islam menyeluruh dari zaman ke zaman karena adanya kesatuan risalah para Rasul yang diutus Allah SWT
2.  Misi para rasul adalah sama: akidah dan ibadah
3.  Tidak ada dari rasul yang kemudian mendirikan agama baru, dengan penyembahan yang baru, misalnya menyembah dirinya. Bahkan Al-Qur’an itu sudah disebut-sebut di kitab-kitab sebelumnya.
Risalah Penutup
Kesatuan risalah (misi) itu sampai dengan risalah yang dibawa oleh penutup para Nabi, Muhammad SAW. Inilah risalah terakhir (penutup) sekaligus penghapus, penyempurna risalah-risalah sebelumnya

2. Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِي&##1617;َةُ الْمِنْهَاجِ)
Syumuliyyatul Islam yang kedua adalah syumuliyyatul minhaj (universalitas dari segi sistem atau tatanan). Minhaj Islam memang meliputi seluruh sendi kehidupan manusia, tidak ada yang terlupakan.
Karena itu, tidak boleh memecah-mecah ajaran Islam (sekularisme sangat ditolak dalam Islam!). 2:85 أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِالْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ à Allah marah kepada orang yang beriman kepada sebagian Al-Qur’an, dan ingkar terhadap sebagian yang lain à balasannya? kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Prinsip Minhaj Islam :
Pondasi (اَلأَسَاسُ)
Bangunan (اَلْبِنَاءُ)
Pendukung atau atap (اَلْمُؤَيِّدَاتُ)
Bangunan Islam
-       Pondasinya adalah syahadatain
-       Tiang-tiangnya adalah empat rukun Islam lainnya: shalat, puasa, zakat, hajji àapakah bangunan yang hanya pondasi dan tiang sudah cukup? Ada yang mau tinggal di situ?
-       Dinding-dindingnya ada empat:
1.      Sistem sosial (الإجتماعي)
2.      Sistem politik (السياسي)
3.      Sistem ekonomi (الإقتصادي)
4.      Sistem budaya (الثقافي)
-       Atapnya adalah jihad fi sabilillah. Secara lebih sederhana, minhaj yang utuh yang diserupakan dengan bangunan yang utuh, terdiri dari :
1.         Pondasi: akidah
2.         Bangunannya: ibadah dan akhlak
3.         Atapnya: jihad dan dakwah

Pondasi atau Asas.
-       Asas bangunan Islam adalah asas yang paling kokoh: AQIDAH yang terangkum dalam syahadatain (rukun Islam pertama) dan enam rukun Iman
-       Sedangkan asas yang lain seperti tepian jurang yang hampir longsor
Jenis Pondasi.
IBADAH dalam arti luas: mahdhah (khusus, ritual) dan ‘ammah (semua perbuatan baik, termasuk empat dinding-dinding tadi)
AKHLAK: tata pergaulan antara manusia dengan Allah, sesamanya, lingkungan, dan juga dirinya sendiri

3. Universal dari Segi Tempat (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)
-     Islam berlaku untuk segala tempat (seluruh dunia)
-     Segala tempat di bumi ini à mesti tegak Islam di atasnya

B.  10 Sistem Hidup
Secara rinci, ada 10 sistem hidup dalam Islam
Sistem keyakinan (اَلاِعْتِقَادِيُّ)
Sistem akhlak (اَلأَخْلاَقِيُّ)
Sistem perilaku (اَلسُّلُوْكِيُّ)
Sistem perasaan (اَلشُّعُوْرِيُّ)
Sistem pendidikan (اَلتَّرْبَوِيُّ)
Sistem sosial (اَلاِجْتِمَاعِيُّ)
Sistem politik (اَلسِّيَاسِيُّ)
Sistem ekonomi (اَلاِقْتِصَاد&#1#1616;يُّ)
Sistem militer (اَلْعَسْكَرِيُّ)

Sistem hukum perundang-undangan (اَلْجِنَائِيُّ)


Resum pendidikan Agama BAB III - BAB v

BAB III
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT
Rukun Islam
Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.
Rukun Islam ada 5
-       Mengucapkan dua kalimat syahadat
-       Mendirikan shalat
-       Menunaikan zakat
-       Puasa bulan Ramadhan
-       Menunaikan haji bagi yang mampu
Rukun Pertama:
&#822#8226;       Diletakkan di urutan PERTAMA dalam rukun Islam berarti syahadatain itu sangat penting Ia menjadi titik tolak baiknya rukun selanjutnya
•       Shalat memang berat ,tapi ringan bagi yang khusyu’ (karena imannya benar)
•       Zakat juga berat, tapi bagi yang meyakini balasan dari Allah yang sangat besar, tentu akan menjadi ringan
•       Puasa juga berat, tapi bagi yang beriman dengan baik, akan jadi ringan
•       Haji juga berat, tapi bagi yang bertakwa itu menjadi ringan
•       Jadi yang menentukan adalah iman, yang ditentukan oleh baiknya syahadatnya (rukun pertama)
Prinsip – prinsip Islam
Inti ajaran Islam adalah Ikhlas kepada Allah , Mengikuti ajaran Rasul SAW Keduanya ada dalam syahadatain. Inti Al-Qur’an ada di surat Al-Fatihah à Penting, sehingga wajib dibaca setiap shalat. Belajar Mulai dari Global Mempelajari sesuatu lebih mudah dari yang global lebih dahulu, baru yang lebih rincinya Semasa di sekolah juga seperti itu

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.

SYAHADAT ASAS PERUBAHAN
Harus mulai dari mana kalau kita ingin melakukan perubahan (masyarakat)? Pertanyaan yang jawabannya sangat sulit, Rasul SAW sendiri bingung Allah SWT-lah yang menunjukkannya.

إِنَّمَا أُنْزِلَ أَوَّلُ مَا أُنْزِلَ مِنْهُ سُوْرَةٌ مِنَ الْمُفَصِّلِ فِيْهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَىالإِسْلاَمِ نَزَلَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ وَلَوْ نُزِّلَ أَوَّلُ شَيْء&#161#1613; :لاَ تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوْا لاَ نَدَعَهَا أَبَدًا ، وَلَوْنُزِّلَ : لاَ تَزِنُوْا لَقَالُوْا لاَ نَدَعَ الزِّنَا
Sesungguhnya yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah surat ‘Al-Mufashshil’ yang berisi peringatan tentang sorga dan neraka.  Hingga keislaman manusia itu kokoh, turunlah tentang halal dan haram. Jika yang pertama kali turun sesuatu yang berkenaan dengan: ‘Jangan minum khamar’, pastilah mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkannya selamanya’; ‘Jangan berzina’, pastilah mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkannya. (HR Imam Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman: 5/3)

SYADAHAT HAKIKAT DAKWAH PARA RASUL
Setiap rasul yang diutus oleh Allah pasti membawa kalimat syahadat Jadi ini seperti  pesan berantai yang menunjukkan bahwa pesan syahadat
Wahyu Setiap Rasul
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
Nabi Nuh AS (7:59)
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَيَوْمٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).
Nabi Hud AS (7:65)
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"
Nabi Shalih AS (7:73)
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya
Nabi Syu’aib AS (7:85)
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya
 Syahadat memiliki keutaman          

§  Kalimat thayyibah laa ilaaha illallah adalah sebaik-baik dzikir
§  Syahadat juga telah memunculkan generasi terbaik umat (khairu ummah)
§  Generasi yang agung ini diakui langsung oleh Allah SWT (3:110)
§  Jika ingin generasi seperti itu muncul lagi, syahadat adalah kuncinya

BAB IV
KANDUNGAN SYAHADAT
       1.Makna “Asyhadu” (أشهد)

       Penggunaan lafadz “asyhadu” sebagai kata kunci dalam kalimat yang menjadi pintu gerbang Islam itu, tentu bukanlah tanpa sebab, karena ada lafaz lain yang maknanya mirip, misalnya “uqirru” (saya mengakui) maupun “U’linu” (saya memproklamirkan). Tapi toh bukan dua kata itu yang digunakan. Jika ditanya, apa sebab pemilahan lafaz “asyhadu” itu, dan bukan yang lainnya? Jawaban yang tepat dan pasti benar adalah: Allahu a’lam (Allah-lah Yang Paling Mengetahui). Namun pasti ada hikmah yang bisa kita gali dari pemilihan lafaz tersebut.
       Kata “asyhadu” sendiri sesungguhnya memiliki tiga makna, kata Ustadz Sa’id Hawwa dalam bukunya Al-Islam. Dan semua makna itu terpakai dalam Al-Qur’an. Apa makna-makna yang terkandung dalam kata “Asyhadu” itu? Al-ustadz Said Hawwa menjelaskan bahwa kata “asyhadu” dengan segala turunanya memiliki makna-makna:
       Pertama, “melihat dengan mata kepala sendiri” (mu’ayanah مُعَايَنَة ). Ini terpakai dalam firman Allah Ta’ala, “Melihatnya (yasyhaduhu) para malaikat yang didekatkan.” ( QS Al-Muthafifin: 21).
Kedua, “mengutarakan dengan kesaksian atau keterangan berkenaan dengan sesuatu atau seseorang yang dia ketahui berdasarkan hasil pengindraannya. “Asyhadu” dengan makna ini bisa kita temukan pada ayat:“Dan mintalah kesaksian (wa asyhidu) dua orang yang adil di antara kalian.” (QS Ath-Thalaq:2). Ketiga, “sumpah”. Al-Qur’an menggunakannya dalam ayat: “Apabila datang kepadamu orang-orang munafiq, kami bersumpah (nasyhadu) bahwa engkau adalah utusan Allah.” ( QS Al-Munafiqun: 1).
Ketiga arti Asyhadu – dengan segala turunan katanya – itu berjalin berkelindan: seseorang akan bersumpah ketika dia menyampaikan kesaksian. Dan tidaklah ia akan memberikan kesaksian kecuali atas dasar apa yang diketahui secara pasti.
       Atas dasar uraian lafadz “asyhadu” dari sisi bahasa (lughah) itu, Ustadz Sa’id Hawwa mengatakan, bisa ditarik kesimpulan bahwa orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat seharusnya:
       Pertama, “melihat” bahwa tiada tuhan selain Allah, dengan akal dan hatinya. Dan dalam rangka membimbing ke arah itu, Allah menegaskan: “Seandainya di langit dan di bumi itu ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya (langit dan bumi itu) akan hancur.” ( QS Al-Anbiya: 22).

Kedua, memberi kesaksian atas apa yang ia “lihat” itu dengan lisannya. Oleh karena itu mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan rukun Islam yang pertama. Tidaklah diterima keislaman seseorang kecuali dengan mengikrarkannya.
       Dan yang ketiga, kesaksian itu haruslah didasari keyakinan tanpa keraguan. Rasulullah saw bersabda: “Tak seorang pun yang bersyahadat tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah secara tulus dari hatinya, melainkan pasti Allah haramkan baginya neraka.” (Riwayat Al-Bukhari dari Al-Qatadah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengomentari hadits ini dengan mengatakan “Hadits itu berlaku untuk orang yang mengucapkannya lalu mati dalam keadaan memegang teguh kalimat tersebut. Dan kalimat syahadat itu juga bersyarat, yakni diucapkan secara ikhlas dari hati, tanpa keraguan, tulus, dan penuh keyakinan”.

       Namun, lanjut beliau, kebanyakan orang mengucapkannya tanpa keikhlasan. Dan kebanyakan mereka mengucapkannya karena taqlid (ikut-ikutan) atau karena tradisi, semetara manisnya iman belum menghiasi hatinya. Dan justru orang mendapatkan siksa ketika mati atau di alam kubur adalah orang-orang seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ”Saya mendengar orang-orang mengucapkan sesuatu maka sayapun mengucapkannya”. (Fathul Majid, hal. 38).

   &nbsnbsp;   Said Hawwa pun kemudian menjelaskan pula bahwa orang yang karena kecongkakannya dan pembangkangannya misalnya, lantas tidak bersyahadat dengan lisannya bahwa tiada tuhan selain Allah, maka sesungguhnya dia adalah kafir. Dan barang siapa yang hati dan akalnya tidak menjadi saksi atau ragu bahwa “tiada tuhan selain Allah” maka dia adalah munafiq walaupun ia mengucapkan kaliamat syahadat (Al-Islam, hal. 26).


2.Makna “Ilaah” (إلا الله)

             Kalimat lain yang perlu dijelaskan adalah : “ilaah”. Dalam penggunaan bahasa Arab, kata “ilaah” (dengan segala bentuknya dari aliha–ya’lahu) memiliki beberapa makna. Di antara makna-makna yang sering diucapkan dengan kata-kata itu adalah: berlindung, merasa tenang, sangat mencintai, dan mengabdi.

Dan seperti halnya lafadz “asyhadu” arti yang terkandung dalam lafadz “ilaah” juga mempunyai kaitan arti satu sama lain. Kaitannya, mengutip penjelasan ustadz Sa’id Hawwa adalah: Seseorang hanya akan berlindung kepada sesuatu atau seseorang yang membuat dia merasa tenang. Lantas, jika sesuatu atau seseorang itu telah mampu membuat dia merasa tenang maka dia akan mencintainya. Dan jika seseorang sangat mencintai sesuatu atau seseorang maka apapun yang dikehendakinya olehnya akan dipatuhinya.

             Karenanya, manakala seseorang mengucapkan “la ilaaha illallahu” dia sesungguhnya tengah mengikrarkan kalimat “Tidak ada yang menjadi tempat berlindung selain Allah; tidak ada yang membuat saya tenang dan tenteram selain Allah; tiada yang lebih saya cintai selain Allah. Dan oleh karena itu saya tidak mengabdi kepada selain Allah.”

             Dan memang Al-Qur’an telah mengarahkan manusia Muslim untuk mempunyai sifat dan sikap seperti itu, di antaranya:

  • Seorang muslim tidak boleh berlindung kepada selain Allah. Berlindung kepada selain Allah sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Allah menginformasikan tentang pernyataan jin. ”Dan sungguh ada kaum laki-laki dari manusia yang minta berlindung kepada kaum laki-laki dari jin, maka mereka (manusia) itu hanya menambah mereka (jin-jin) semakin congkak.” (QS Al-Jin: 6). Ayat itu menegaskan tentang kesia-siaan orang yang minta perlindungan kepada selain Allah.
  • Seorang mukmin mendapat ketentraman dengan mengingat Allah. Firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tenang tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengigat Allah-lah hati akan menjadi tenteram.” ( QS Ar-Ra’ad: 28).
  • Orang beriman akan menjadikan Allah sebagai Yang paling dia cintai melebihi yang lain: “Dan di antara orang-orang yang menyembah sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Sedangkan orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” ( QS Al-Baqarah: 165).
  • Orang yang beriman mempersembahkan kehidupan dan pengabdiannya kepada Allah. Ini sesuai dengan ikrar harian: ”Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan.” ( QS Al-Fatihah: 5).





BAB V
PENGERTIAN KATA ILLAH

Kata ILAH Terdiri atas tiga huruf : alif, laam, dan haa.
Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab, maka ALIHA itu memiliki beberapa arti, yaitu :

•         Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
•         Memohon perlindungan (اِسْتَجَا رَ بِهِ)
•         Yang dituju karena rindunya (إِشْتَا قَ إِلَيْهِ)
•         Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
•         Mengabdi (عَبَدَهُ)

Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)

Seorang muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangka dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah.

أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.

Memohon perlindungan (اِسْتَجَا رَ بِهِ)

Minta perlindungan kepada jin, adalah dosa besar. Meskipun semua makhluk melindungi seseorang, tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tetimpa bencana. Begitu pula sebaliknya (Hadits).

Yang dituju karena rindunya (إِشْتَا قَ إِلَيْهِ)

Larilah kamu menuju Allah(51:50-51) :
•         Kalau lari, tabiatnya muka ke depan dan tidak berpaling kekiri dan kekanan
•         Jangan terbuai dengan dunia dan orang lain.

Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)

Kita boleh cinta kepada anak, harta dan yang lainnya, tapi yang paling dicintai haruslah Allah. Karena kecintaan seorang mu’min kepada Allah harus sangat cinta, bukan sama cintanya dengan kepada selain-Nya.

Kenapa cinta tertinggi harus kepada Allah ?
  •  Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan.
  • Menuruti tuntutan anak, istri dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan Allah.

Mengabdi (عَبَدَهُ)

Ini arti ILAH yang merangkum semua arti ILAH di atas. Karena mengabdi berarti :
  • Merasa tenang
  • Minta perlindungan
  • Menuju karena rindunya
  • Mencintainya

Berarti لاإله إلاالله maknanya “Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah”.

Tuntutan Pengabdian

Pengabdian itu tercapai kalau dilakukan dengan :
  • Sempurna dalam mencinta (كَمَالُ الْمَحَبَّةِ)
          Merasa asyik bersamanya
          Berlama-lama bersaman
  • Sempurna dalam menghinakan diri (كَمَالُ التَّذَلُّل)
  • Sempurna dalam ketundukan (كَمَالُ الْخُضُوْع)

ILAH (Ibnu Taimiyah)

هُوَ الَّذِي يَأْلَهَهُ الْقَلْبُ بِكُلِّ الْحُبِّ وَالتَّعْظِيْمُ وَالرَّجَااءِ وَالخَوْفِ وَنَحْوُ ذَلِكَ
Segala yang digandrungi hati dengan segenap kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, harap, cemas dan sederajat dengan itu.
Pengabdian kepada Allah
Pengabdian hanya kepada Allah saja karena :
Allah pemilik otoritas
hak menciptakan, memeintah dan memimpin hanyalah hak Allah.

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِين
Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Ai Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. (7:196)

Allah pemilik ketaatan
Ketaatan yang utama adalah kepada Allah. Ketaatan kepada RAsul Allah karena Rasul Allah tidak pernah ma’siyat kepada Allah, sehingga nilai ketaatannya sama. Taat pada ulil amri punya syarat, ulil amri itu harus taat kepada Allah.

لاَطَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا اطَّاعَةُ فِي الْمِعْرُوْفِ
Tiada ketaatan dalam ma’siyat, ketaatan itu hanya pada masalah ma’ruf (Muttafaq alaih)
Allah pemilik kedaulatan
Kedaulatan ada di tangan Allah.

إِنَّ الْحُكْمُ إِلالله
Menetapkan kehendak itu hanyalah hak Allah
Ilah Satu-satunya Allah SWT

•      Yang kita berikan cinta yang sempurna, penghinaan diri yang sempurna, ketundukan yang                   sempurna hanyalah Allah
•      Yang memiliki otoritas, ketaatan, dan kedaulatan hanyalah Allah saja
        Loyalitas dan Pemutusan Hubungan

Akarnya Kokoh (أَصْلُهَا ثَابِتٌ)

• Ini syarat sebuah pohon bisa hidup dengan baik
• Akar adalah tempat menyerap makanan
• Akar juga untuk mengikat pohon dengan tanah sehingga tidak roboh
• Akar yang kokoh mampu menahan angin yang kencang
• Iman yang kuat: akar imannya menghunjam ke dalam hati
   kan kokoh dan teguh dalam menghadapi tantangan dan ujian

Cabangnya (Menjulang) Ke Langit (فَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ)

• Karena akarnya kokoh, maka mampu menopang cabang-cabang yang menjulang tinggi ke langit
• Ketinggian atau lebarnya cabang-cabang menunjukkan akarnya juga seperti itu
• Ini adalah pohon yang rindang menyejukkan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya
• Daunnya juga lebat: daun adalah dapurnya pohon
• Iman yang seperti itu menyenangkan siapa saja yang bernaung di bawahnya dan memancarkan sinarnya yang menyejukkan

Kalimat yang Buruk (14:26)
• Selain لاإله إلاالله adalah kalimat yang buruk (كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ )
• Mereka seperti pohon yang buruk (كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ)
• Cirinya tidak perlu banyak, cukup satu saja: akarnya tercerabut dari bumi (اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ)

Tidak akan kokoh (مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidak akan menjulang ke langit dahannya
Tidak akan berbuah

• Contoh: tauge

Rincian Kalimat لاإله إلاالله

• Kalimat لاإله إلاالله terdiri atas empat kata
1. لا
2. إله
3. إلا
4. الله

• Masing-masing memiliki fungsi

1. لا fungsinya adalah meniadakan (اَلنَّفْيُ)
• Atau makna yang sejenis: menghancurkan, meruntuhkan, membabat, menghilangkan
2. إله fungsinya sebagai yang ditiadakan (اَلْمَنْفِيُّ)
• Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
3. Keduanya mengandung maksud bahwa kita harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut dengan اَلْبَرَاءُ

• Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
1. Mengingkari atau menolak (اَلْكُفْرُ)
2. Memusuhi (اَلْعَدَاوَةُ)
3. Membenci (اَلْبُغْضُ)
4. Memutuskan atau mengisolir (اَلْمُفَاصَلَةُ)

• Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai pengingkaran, permusuhan dan kebencian
 masih mungkin balik lagià• Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan membencinya

Syahadatain untuk Perubahan (التَّغْيِيْرُ)
• Syahadatain yang benar mampu merubah seseorang: berubah menjadi pribadi baru
• Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI YANG ISLAMI (الشَّخْصِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ)
– Pribadi yang diwarnai dengan warna syahadatain
– Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
• Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan dengan yang lain

Tentara Fikrah dan Akidah
• Imam Syahid Hasan al-Banna mengartikan ikhlas dengan menjadi tentara fikrah dan akidah (جُنْدِيفِكْرَة وَعَقِيْدَة )
• Setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan

• Ada sebanyak 19 ayat yang menyebutkan kata “kalimat” (كَلِمَةُ)
• Arti “kalimat”
• Pernyataan
• Ketetapan
• Konsepsi (Manhaj)

Islam vs Non-Islam
• Islam memiliki ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi yang berbeda dengan Non-Islam
• Merujuk pada materi “Al-Wala wal-Bara”, maka Islam telah membersihkan dirinya sebersih-bersihnya dari segala kotoran Non-Islam.

Syahadatain vs Ideologi Jahiliyah
• Ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi Islam yang bersih itu bersumber dari syahadatain
• Sedangkan Non-Islam berasal dari pemikiran-pemikiran atau ideologi jahiliyah
– Ideologi yang tumbuh dari tumpukan dosa-dosa
– Padahal dosa itu menimbulkan bintik hitam (نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ) dalam hati (83:14)
– Apabila tidak dibersihkan dengan taubat, maka akan menutupi hati (2:7)
– Akhirnya dosa itu ditetapkan sebagai hukum

Kalimat Allah vs Kalimat Orang Kafir
• Syahadatain itu adalah Kalimat Allah (9:40), berasal dari Allah SWT
• Sedangkan ideologi jahiliyah bersumber dari ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi orang-orang kafir (9:40, 74)
– Mereka bagaikan berada di samudra yang dalam, gelap, ombak bergulung-gulung, tidak bisa melihat apapun bahkan dirinya sendiri pun tidak (24:40)

Kalimat Allah itu Tinggi
• Kalimat Allah itulah yang tinggi, mulia (9:40)
– Karena semua kemuliaan memang hanya milik Allah (10:65)
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah, hina (9:40, 95:5 أَسْفَلَ سَافِلِينَ, 98:6 هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ)

Kalimat Tauhid vs Kalimat Syirik
• Kalimat Allah yang tinggi dan mulia itu adalah kalimat tauhid: لاإله إلا الله
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir yang rendah itu adalah kalimat syirik
– Kemusyrikan bagaikan jatuh dari langit lalu dicerai-beraikan oleh burung akhirnya jatuh di tempat yang jauh (22:31)
– Kemusyrikan menyebabkan terpecahnya kepribadian, karena tidak fokus dalam pengabdian (39:29)

Kalimat Taqwa vs Kesombongan Jahiliyah
• Kalimat tauhid itu adalah kalimat taqwa, yang menghantarkan seseorang kepada ketaqwaan (48:26)
• Sedangkan kalimat syirik menghantarkan seseorang kepada kesombongan jahiliyah (48:26)
– Suhail bin Amru ketika masih kafir dalam Perjanjian Hudhaibiyah menolak kalimat basmalah dan rasulullah (setelah Islam ia sahabat yang gigih membela Islam terutama saat menghadapi orang-orang murtad)
– Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكِبْرُ بَطْرُ الحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ)

Kalimat Baik vs Kalimat Buruk
• Kalimat taqwa adalah kalimat yang baik (14:24)
• Sedangkan kesombongan jahiliyah adalah kalimat yang buruk (14:26)
– Tidak memberikan manfaat bagi manusia
– Didengar pun tidak enak

Kuat vs Lemah
• Jadi syahadatain itu kuat
– Pasti menang (58:21)
كَتَبَ اللَّه&#16#1615; لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
• Sedangkan ideologi jahiliyah itu lemah
– Pasti kalah dan hancur (17:81 زَهُوقًا)
مَرَاحِلُ التَّفَاعُلِ بِالشَّهَادَتَيْنِTahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain

Syahadatain Menghasilkan Cinta
• Syahadatain yang diucapkan harus menghasilkan cinta. Kenapa?
• Karena “ilah” itu artinya yang dianut (panutan)
• Orang tidak akan manut/taat kalau tidak setia (loyal)
• Tidak akan setia kalau tidak cinta
• Jadi tuntutan syahadatain: adanya cinta
• Cinta seperti apa?

Mencintai Apa yang Dicintai Allah dan Rasulnya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُوَرَسُوْلُهُ)

• Adanya penyesuaian dalam kecintaan
• Karena belum tentu yang kita cintai, pun dicintai Allah dan RasulNya, seperti perang (2:216)
• Ulama berkata:
• مَحَبَّةُ مَحْبُوْبِ الْمَحْبُوْبِ مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ الْمَحْبُوْبِ
• “Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintainya kepada kekasih”

Membenci Apa Yang Dibenci Allah dan Rasulnya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُاللهُ وَرَسُوْلُهُ)

• Allah dan RasulNya membenci perbuatan (الْفَحْشَاءِ), kemungkaran (الْمُنْكَرِ) dan permusuhan (الْبَغْيِ) 16:90 kita pun membencinya
• Sungguh akan membuatnya tersinggung apabila kekasih membenci sesuatu tapi kita malah menyukainya

Tanda-tanda Cinta (آيَاتُ المَحَبَّةِ)

• Mengikuti Rasul SAW (إِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ)
– 3:31 قُلْ إِنْ كُنْت&#1615#1615;مْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
• Berjihad di jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)
– 49:15 bukti iman yang kokoh adalah jihad di jalan Allah
– Berani menanggung resiko

Kata Ulama:
– مَحَبَّةُ الْمَحْبُوْبِ لاَ تُنَالُ إِلا بِاحْتَمَالِ الْمَكْرُوْهَةِ
– “Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecauli dengan menanggung segala resiko”

Ridho (اَلرِّضَى)

• Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan RIDHO
• Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
• Siapa yang harus kita ridhoi?
– Allah sebagai Robb kita
– Islam sebagai agama kita
– Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita

Pendalaman dan Perluasan Materi
• Masalah ridho akan diperdalam pada materi khusus tentang ridho (A08)
• Masalah ridho juga akan diperluas di materi
– Ma’rifatullah : ridho kepada Allah
&#821#8211; Ma’rifatul Islam : ridho kepada Islam

– Ma’rifaturrasul : ridho kepada Rasul SAW

1 comment:

  1. artikel islam yang sangat lengkap yang pernah saya temui. dan saya baca. Semoga mengandung banyak manfaatnya juga buat yang lainn

    ReplyDelete